PENGEMBANGAN MODEL PEMBINAAN GURU DALAM PENYUSUNAN KARYA TULIS GURU SEBAGAI PENGEMBANGAN DAN PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESI PENDIDIK

PENGEMBANGAN MODEL PEMBINAAN GURU DALAM PENYUSUNAN KARYA TULIS GURU SEBAGAI PENGEMBANGAN DAN PENINGKATAN KOMPETENSI PROFESI PENDIDIK

 

Ninik Sri Widayati, M.Pd

 

Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada dasarnya menuntut pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Michael G. Fullan yang dikutip oleh Ahmad Sudrajat (2007) mengemukakan bahwa “educational change depends on what teachers do and think…”. Perubahan dan pembaharuan sistem pendidikan sangat bergantung pada “what teachers do and think “. atau dengan kata lain bergantung pada penguasaan kompetensi guru. Jika kita amati lebih jauh tentang realita kompetensi guru saat ini agaknya masih beragam. Sudarwan Danim (dalam Sudrajat 2007) mengungkapkan bahwa salah satu ciri krisis pendidikan di Indonesia adalah guru belum mampu menunjukkan kinerja (work performance) yang memadai.

Data menunjukkan bahwa dalam catatan MONE (2001), di Sekolah Dasar (SD) ada 25.697.810 siswa dengan 1.128.475 guru; di SMP ada 7.584.707 siswa dengan 463.864 guru; di SMA ada 4.872.451 siswa dengan 354.648 guru. Dengan demikian, di SD, tiap guru rata-rata membimbing 23 siswa; di SMP tiap guru rata-rata membimbing 17 siswa; dan di SMA setiap guru rata-rata membimbing 14 siswa. Dari data itu, secara umum jumlah guru di Indonesia sebenarnya memadai. Namun, dalam realitasnya banyak sekolah kekurangan guru. Sebagai ilustrasi, tidak hanya SD di luar Pulau Jawa, tetapi juga di Pulau Jawa masih kekurangan banyak guru. Satu SD “nonparalel” yang idealnya memiliki tujuh guru kenyataannya hanya memiliki dua atau tiga guru.

Dalam aspek kualitas pendidikan guru, secara obyektif mutu guru kita masih rendah. Balitbang Depdiknas pernah membuat laporan, dari seluruh guru SD ternyata hanya sekitar 30 persen yang layak mengajar di kelas. Guru SMP dan SMA pada dasarnya sama meski dengan proporsi berbeda. Guru MI, MTs, dan MA kondisinya lebih parah. Secara akademis, banyak guru tidak berkualifikasi mengajar, misalnya, lulusan SM mengajar SD dan MI, lulusan D II mengajar SMP dan MTs, dan lulusan D III mengajar SMA serta MA.

Kondisi ini diperparah lagi dengan kurang optimalnya motivasi mengajar sebagian guru. Hal ini dikarenakan kesejahteraan yang rendah. Bila selama ini banyak pendapat menyatakan profesionalisme guru di Indonesia relatif rendah atau kurang memadai, hal itu merupakan akibat langsung dari rendahnya kesejahteraan guru. Jumlah guru yang kurang, kualitas yang rendah dan profesionalisme yang kurang memadai adalah kombinasi sempurna guna menghasilkan lulusan yang kurang cerdas. Realitas inilah yang terjadi di negara kita bertahun-tahun.

Sebagai tindak lanjut Departemen Pendidikan Nasional menetapkan 4 (empat) hal sebagai prioritas strategis: 1) mengatur sistem manajemen pendidikan 2) meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan, 3) meningkatkan penyebaran dan penerapan pemerataan sehingga setiap orang berkesempatan untuk memperoleh pendidikan, 4) meningkatkan penguasaan dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Terdapat 3 (tiga) program utama untuk meningkatkan kualitas dan relevansi pendidikan: 1) akreditasi dan persamaan gelar di universitas (standar kualifikasi guru), 2) seminar dan pelatihan bagi para guru di LPMP dan PPPG, 3) MGMP, Musyawarah Guru Mata Pembelajaran untuk mengembangkan profesi.

Berdasarkan kebijakan diatas widyaiswara sebagai ujung tombak LPMP dalam pelaksanaan pelatihan dan pembinaan guru disetiap tempat, memiliki peran yang amat strategis. Widyaiswara, yang memiliki tugas dan fungsi pokok sebagai fasilitator dalam pelatihan dan pembinaan guru, tentunya dituntut untuk selalu mengembangkan kemampuannya dalam rangka penyelenggaraan pelatihan  dan pembinaan yang baik. Metode-metode yang dikembangkan nantinya tidak hanya harus inovatif akan tetapi juga efektif dalam penerapannya di lapangan. Hal ini mutlak dilakukan terlebih berdasarkan laporan awal Program SISTTEMMS, kerjasama Pemerintah Indonesia dan Japan International Cooperation Agency (JICA) pada bulan Mei Tahun 2006 kemarin, didalam pelatihan guru pada umumnya lebih didominasi oleh pembelajaran dengan model ceramah yang isinya hanya berorientasi pada teori semata (subject matter). Peningkatan kompetensi guru harus berbasis pendekatan klinis dan praktis, melalui praktek, pengamatan dan refleksi dalam pola yang sistematis.

Proses pelatihan dan pembinaan adalah serangkaian tahapan proses peningkatan kualitas kompetensi guru yang harus memiliki pola atau model yang lebih efektif. Model ini tidak hanya mampu secara bertahap mengarahkan peserta pelatihan pada fase kemandirian, tetapi yang terpenting adalah mendorong penyempurnaan kualitas pelatihan dan pembinaan itu sendiri ke arah yang lebih baik. Sehingga untuk dapat mencapai hal tersebut keberadaan model ini juga harus mampu merevitalisasi peran dan fungsi sekolah sebagai tempat untuk saling belajar, tumbuh dan berkembang.

 

Makna pelatihan sebagai proses peningkatan kompetensi guru

Pelatihan-pelatihan secara umum adalah proses kegiatan yang diikuti oleh staf atau karyawan instansi yang bersangkutan. Pada umumnya mereka adalah “orang dewasa” yang telah mempunyai berbagai pengalaman baik dalam bidang pekerjaannya maupun pengalaman lain dan mempunyai latar belakang yang beragam.  Pada umumnya peserta pelatihan telah memiliki “kematangan”, “konsep diri” selain pengalaman. Sehingga berangkat dari fakta ini pelatihan dan pembinaan tidak lain  merupakan pendidikan orang dewasa, oleh karena itu prinsip dan pola yang dikembangkan tentunya tidak boleh sama dengan pembelajaran siswa disekolah.

Pendidikan Orang Dewasa (Adult Education) dicetuskan oleh Malcolm Knowles yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul “The Adult Learner, A Neglected Species” dengan istilah “Andragogi”. Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno “aner”, dengan akar kata andr- yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang berarti membimbing atau membina, istilah ini berbeda dengan pengertian “pedagogi”. Pedagogi berasal dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing atau memimpin, sehingga secara harfiah “pedagogi” berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak. Pengertian pedagogi yang berarti seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak jelas tidak tepat bagi penggunaan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan orang dewasa, karena mengandung makna yang bertentangan. Orang dewasa adalah individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, sehingga yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (learner centered training/teaching). Pelatihan dan pembinaan harus bersifat memfasilitasi atau memandu sebagai proses yang dirancang untuk membantu kelompok mampu melaksanakan fungsinya lebih efektif dengan jalan menghimpun ketrampilan-ketrampilan kepemimpinan dan potensi dari seluruh anggota.

Sebagai amanah dari UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pelatihan dan pembinaan merupakan proses peningkatan kualitas kompetensi guru yang bertujuan tidak lain untuk mengembangkan profesi itu sendiri. Dalam kaitan ini menurut Lewis (2002) ada 8 (delapan) prinsip pelatihan dalam peningkatan kompetensi guru, antara lain: eksperensial (praktek langsung), fokus pengembangan berasal dari guru, melibatkan pakar yang berasal dari dalam dan luar sekolah, kolaboratif, berpusat pada realitas, berkelanjutan, berdasarkan bukti, tidak berdiri sendiri. Oleh sebab itu peranan dan fungsi fasilitator adalah mendorong dan melibatkan seluruh peserta dalam proses interaksi belajar mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu. Dengan begitu maka tugas dan peranan fasilitator bukanlah memaksakan program atau kurikulum dari atas, dari instansi, dari dinas, yang mereka buat di atas meja terlepas dari kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi.

Kompetensi Profesional Guru

Apa yang dimaksud dengan kompetensi itu? Louise Moqvist (2003) mengemukakan bahwa “competency has been defined in the light of actual circumstances relating to the individual and work. Sementara itu, dari Trainning Agency sebagaimana disampaikan Len Holmes (1992) menyebutkan bahwa : ” A competence is a description of something which a person who works in a given occupational area should be able to do. It is a description of an action, behaviour or outcome which a person should be able to demonstrate.” Dari kedua pendapat di atas kita dapat menarik benang merah bahwa kompetensi pada dasarnya merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan (be able to do) seseorang dalam suatu pekerjaan, berupa kegiatan, perilaku dan hasil yang seyogyanya dapat ditampilkan atau ditunjukkan. Agar dapat melakukan (be able to do) sesuatu dalam pekerjaannya, tentu saja seseorang harus memiliki kemampuan (ability) dalam bentuk pengetahuan (knowledge), sikap (attitude) dan keterampilan (skill) yang sesuai dengan bidang pekerjaannya.

Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional, pemerintah telah merumuskan empat jenis kompetensi guru sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah No 14 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, yaitu :

1.    Kompetensi pedagogik yaitu merupakan kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi: (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c)pengembangan kurikulum/ silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2.    Kompetensi kepribadian yaitu merupakan kemampuan kepribadian yang: (a) mantap; (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.

3.    Kompetensi sosial yaitu merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk : (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.

4.    Kompetensi profesional merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang meliputi: (a) konsep, struktur, dan metode keilmuan/teknologi/seni yang menaungi/koheren dengan materi ajar; (b) materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; (c) hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; (d) penerapan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari; dan (e) kompetisi secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai dan budaya nasional.

Di masa mendatang guru tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang paling well informed terhadap berbagai informasi dan pengetahuan yang sedang berkembang dan berinteraksi dengan manusia di jagat raya ini. Di masa depan, guru bukan satu-satunya orang yang lebih pandai di tengah-tengah siswanya. Jika guru tidak memahami mekanisme dan pola penyebaran informasi yang demikian cepat, ia akan terpuruk secara profesional. Kalau hal ini terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan baik dari siswa, orang tua maupun masyarakat.

 

Karya Tulis Ilmiah Sebagai Proses Peningkatan Kompetensi Guru

Sebagaimana diatur dalam pasal 1 Undang-undang No. 14 Tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa seorang guru harus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang mampu meningkatkan kompetensi atau keahliannya sebagai pendidik. Hal inilah yang menyebabkan mengapa guru disebut oleh Supardi (guru besa UNNES) sebagai “pejabat fungsional keahlian”. Jabatan yang mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang keahliannya, untuk itu guru harus terus meningkatkan kemampuan profesinya. Guru harus selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi .

Dalam pasal 5 Kep. Men.PAN. Nomor 84/1993 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, diatur beberapa bidang kegiatan pengembangan profesi guru yang terdiri dari:

1.    melakukan kegiatan karya tulis ilmiah/karya ilmiah di bidang pendidikan;

2.    membuat alat pelajaran/peraga atau alat bimbingan

3.    menciptakan karya seni

4.    menemukan teknologi tepat guna di bidang pendidikan

5.    mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum

Dari kelima kegiatan diatas penyusunan karya tulis ilmiah adalah satu-satunya kegiatan yang terbuka bagi setiap guru dengan biaya dan persyaratan yang lebih mudah. Sebab untuk kegiatan pengembangan profesi seperti pembuatan alat pelajaran/peraga atau alat bimbingan serta menciptakan karya seni baru dapat dilakukani (dinilai kelayakannya) apabila telah dicoba dan diseminarkan atau diselenggarakan sebuah pagelaran dengan menghadirkan tokoh penting sebagai legitimasi penilaian. Faktor-faktor yang menjadi penentu kelayakan perlu dikaji dengan teliti dan holistik.

Karya tulis ilmiah dibidang pendidikan dibedakan 7 (tujuh) antara lain :

1.    Karya (tulis) ilmiah hasil penelitian hasil penelitian, pengkajian, survey, dan atau evaluasi di bidang pendidikan

2.    Kaya tulis atau makalah yang berisi tinjauan atau ulasan ilmiah hasil gagasan sendiri dalam bidang pendidikan

3.    Tulisan ilmiah populer dibidang pendidikan dan kebudayaan yang disebarluaskan melalui media massa

4.    Prasarana yang berupa tinjauan, gagasan atau ulasan ilmiah yang disampaikan dalam pertemuan ilmiah

5.    Buku pelajaran atau modul

6.    Diktat pelajaran

7.    Karya penerjemahan buku pelajaran/karya ilmiah yang bermanfaat bagi pendidikan

Karya tulis ilmiah adalah tulisan yang sedikitnya memenuhi tiga syarat, yakni: 1. Isi kajiannya berada pada lingkup pengetahuan ilmiah, 2. Langkah pengerjaannya menggunakan metode (berfikir) ilmiah, dan 3. Sosok tampilannya sesuai dan telah memenuhi persyaratan sebagai suatu sosok tulisan keilmuan. Karya tulis dapat dikerjakan secara pribadi maupun kelompok, akan tetapi sebagai sebuah karya yang akan dinilai dan menambah angka kredit maka ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan:(1) Keaslian penulisan karya ilmiah (2) Legalitas karya tulis (3) Permasalahan yang diteliti (4) Sistematika/format atau kerangka karya ilmiah

(5) Landasan teori yang digunakan (6) Pembahasan. Meski sepintas persyaratan kelayakan karya ilmiah tidak terlalu berat, namun prosentase karya yang layak masih rendah jika dibandingkan banyaknya dari karya yang dikirimkan. Terlebih kelemahan karya ilmiah ini hampir menyeluruh dalam ke enam aspek penilaian diatas.

Peran dan Fungsi Widyaiswara Dalam Penyusunan Karya Tulis Guru

Peningkatan kualitas tidak bisa dipisahkan begitu saja dengan widyaiswara sebab dalam kaitan ini widyaiswara memiliki peran yang amat penting. Melalui widyaiswara tranfer pengetahuan tentang teknik penyusunan karya tulis ilmiah yang baik terjadi dalam setiap pelatihan. Sehingga secara tidak langsung seorang widyaiswara memiliki tanggungjawab moral apabila ternyata kualitas karya tulis ilmiah guru yang notabene adalah peserta dalam pelatihannya kurang memuaskan. Berdasarkan kenyataan ini maka perlu dilakukan penyempurnaan desain atau model diklat sebagai model alternatif yang lebih efektif dan mampu meningkatkan kualitas kompetensi guru, khususnya dalam penyusunan karya tulis ilmiah.

Berdasarkan pengalaman pada saat pelaksanakan diklat atau pelatihan para guru pada umumnya memiliki antusiasme yang tinggi, akan tetapi setelah diklat atau pelatihan berakhir kebanyakan diantara mereka kebingungan menyusun rencana masa depan (action plan). Hal inilah yang menyebabkan banyak diantara peserta diklat atau pembinaan tidak melakukan transfer pengetahuan sedikit pun setelah sampai disekolahnya masing-masing. Berangkat dari keprihatinan ini penulis merasakan perlu adanya penyempurnaan pola diklat atau pelatihan secara umum, khususnya dalam diklat atau pelatihan karya tulis guru yang penting bagi pengembangan profesi guru secara umum. Pengembangan  model alternatif diklat atau pelatihan ini berbasis pada 3 (tiga) pendekatan, pendekatan klinis dan praktis, pendekatan kolaboratif dan prinsip pendidikan integralistik. Keberadaan ketiga pendekatan ini nanti bertujuan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai pendidikan Ki Hajar Dewantara, mengenai olah raga, olah rasa dan olah pikir didalam pribadi guru dilapangan. Sebab peran motivasi peserta diklat atau pelatihan untuk belajar dan maju adalah kunci kesuksesan pelaksanaan diklat atau pelatihan itu sendiri

Dalam hal ini melalui pendekatan klinis dan praktis diharapkan akan diketahui akar permasalahan yang sebenarnya ada, baik pada guru, siswa ataupun sekolah sebagai lembaga. Pendekatan ini memiliki dua makna, kuratif (penyembuhan), dan, preventif (pencegahan). Melalui pendekatan kolaboratif, guru didorong secara bersama-sama dengan guru-guru lain merencanakan pembelajaran yang ideal atau tepat dengan kondisi siswa. Selanjutnya melalui prinsip pendidikan holistik diupayakan internalisasi nilai-nilai dalam pembelajaran di kelas dan atau dilingkungan sekolah. Holistik mengandung pengertian bahwa sekolah mampu menjadi lingkungan yang kondusif bagi perkembangan siswa dan guru.

Model Alternatif Pelaksanaan Pelatihan dan Pembinaan Karya Tulis Guru

Pelaksanaan model alternatif pelatihan dan pembinaan guru yang telah dikembangkan oleh penulis dilakukan dalam beberapa tahapan sebagai berikut:

      Penjelasan :

A.   Tahap Persiapan

Tahapan ini merupakan proses penyamaan persepsi konsep peningkatan kompetensi guru melalui  pelatihan dan pembinaan guru – antara widyaiswara (selaku perwakilan LPMP Jawa Timur), Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, dan Sekolah yang dibina. Data-data yang diperoleh melalui diskusi ini nantinya menjadi referensi bagi widyaiswara dalam pelaksanaan pelatihan dan pembinaan guru, agar formula yang disusun tepat sasaran.

B.   Tahap Implementasi Program

Dalam kaitan tersebut ada beberapa tahapan dalam pelaksanaan pembinaan dan pelatihan dengan model alternatif yang dikembangkan, yang dapat dilihat pada bagan berikut ini:

Bagan alur pelaksanaan model alternatif pelatihan dan pembinaan guru

1.    Penentuan tujuan dan perencanaan

a.    Pembentukan anggota kelompok

Pembentukan kelompok dilaksanakan berdasarkan kondisi guru yang ada disekolah, dalam pembentukan kelompok ada beberapa hal yang menjadi persyaratan yaitu: (1) Anggota kelompok memiliki kepedulian terhadap peningkatan kualitas pembelajaran (2) Anggota kelompok bersedia untuk selalu memunculkan inovasi dalam pembelajaran dikelas (3) Anggota kelompok bersedia mengalokasikan waktu khusus untuk pertemuan rutin dalam rangka memenuhi tuntutan pelatihan dan pembinaan (4) Anggota kelompok bersedia memiliki peran dan fungsi yang sama dalam pelatihan dan pembinaan

b.    Penetapan tema pengembangan pembelajaran yang diteliti

Tema adalah kesenjangan antara kualitas ideal dengan kualitas aktual siswa. Setelah tema ditetapkan maka langkah berikutnya adalah memilih pelajaran, serta memilih topik. Mata pelajaran yang digunakan dalam pelatihan dan pembinaanadalah pelajaran yang dipilih atas dasar, mata pelajaran apa yang sulit bagi siswa, mata pelajaran apa yang paling sulit diajarkan oleh guru, dan terakhir adalah mata pelajaran apa yang ada pada kurikulum baru yang ingin dikuasai dan dipahami oleh guru.

c.    Penyusunan rencana pembelajaran secara kolaboratif

Secara kolaboratif grup pembelajaran merancang pembelajaran untuk mewujudkan pencapaian tujuan, termasuk rencana pembelajaran yang akan diamati. Rencana ini akan memandu pembelajaran, pengamatan, dan diskusi tentang pelaksanaan pembelajaran, mengungkapkan temuan yang muncul selama pembelajaran berlangsung serta harus sinergis dengan tujuan akhir pembelajaran yang telah ditetapkan, yaitu mengenai dampak pembelajaran terhadap siswa.

2.    Pelaksanaan pembelajaran di kelas

Setelah tahap perencanaan pembelajaran selesai dilakukan maka sesuai dengan kesepakatan peran dalam grup pembelajaran, salah seorang guru membelajarkan siswa sesuai rancangan/skenario yang telah dibuat sedangkan guru lain mengumpulkan data, mengenai kegiatan siswa (berfikir, belajar, berpartisipasi dan berperilaku). Dalam pelaksanaan perlu ditekankan pada siswa bahwa keberadaan guru-guru lain dikelas tersebut bukanlah untuk membantu siswa namun hanya mengamati pembelajaran yang dilakukan oleh siswa. Kesulitan siswa baik tentang penjelasan materi maupun soal latihan harus disampaikan secara terbuka dan ditujukan kepada guru yang bersangkutan.

3.    Pengamatan proses pembelajaran di kelas

Pengamat adalah guru-guru lain yang tergabung dalam kelompok yang berperan dalam mengumpulkan data yang diperlukan selama pelajaran berlangsung. Dokumentasi pembelajaran yang diteliti biasanya dapat dilakukan dengan audio tape, video tape, handycam, kamera, karya siswa, dan catatan observasi naratif. Peranan pengamat adalah mengumpulkan data dan bukan membantu siswa. Para siswa harus diberitahu lebih dahulu bahwa pengamat atau guru lain dikelas mereka itu hanya bertugas untuk mempelajari pelajaran yang berlangsung dan bukan untuk membantu mereka. Sehingga ada baiknya setiap anggota grupmemiliki peran masing-masing seperti mengumpulkan materi yang dibutuhkan, dokumentasi dan penggandaan rencana pembelajaran, sekaligus melakukan fasilitasi dan “proceeding” hasil diskusi setelah pelajaran berlangsung.

 

4.    Diskusi dan konsolidasi mengenai pelaksanaan pembelajaran dan hasil-hasil pengamatan

Pembelajaran  yang sudah diimplementasikan perlu didiskusikan dan dianalisis. Hal ini diperlukan sebagai bahan masukan untuk peningkatan kualitas atau revisi pembelajaran, agar selanjutnya pembelajaran dapat lebih baik dan sempurna, efektif dan efisien. Diskusi dan analisis dilaksanakan dengan segera, pada hari yang sama, setelah pembelajaran ini dilaksanakan. Hal ini dilakukan demi menunjang keberhasilan dalam memperoleh data atau bahan masukan yang diperlukan untuk peningkatan kualitas atau revisi pelajaran/unit/pendekatan pembelajaran. Dan selanjutnya semua hasil diskusi apabila dirasa perlu, maka dapat dilakukan revisi rancangan dan membelajarkan ulang di kelas lain dan mengkajinya lagi. Penentuan keberhasilan pelaksanaan pembelajaran lebih ditentukan oleh tingkat kepuasan grup pembelajaran terhadap hasil yang telah diperoleh.

C.   Tahap Evaluasi Program

Dalam rangka mengetahui keberhasilan pelatihan maka widyaiswara perlu melakukan penilaian implementasi yang dilaksanakan sekolah. Aspek-aspek yang menjadi evaluasi antara lain:

–    Aspek pengelolaan pembelajaran dan pemahaman guru secara mendalam tentang siswa

Evaluasi bertujuan untuk menilai sejauhmana pemahaman guru terhadap peserta didiknya, hal ini ditinjau dari:

a.    Penguasaan siswa terhadap materi yang diberikan

b.    Kesesuaian metode pembelajaran dengan materi yang diberikan

c.    Respon (keaktifan) siswa terhadap pembelajaran

–    Aspek penguasaan materi pelajaran oleh guru

Evaluasi bertujuan untuk menilai sejauhmana penguasaan materi oleh guru, hal ini ditinjau dari:

a.    Miskonsepsi guru tentang materi yang muncul dalam perencanaan maupun dalam diskusi pasca pelaksanaan dan pengamatan pembelajaran

b.    Inkonsistensi pendapat guru tentang materi yang muncul dalam perencanaan maupun dalam diskusi pasca pelaksanaan dan pengamatan pembelajaran

c.    Kemampuan guru dalam mengkolaborasikan pengetahuan-pengetahuan lain dalam perencanaan maupun dalam diskusi pasca pelaksanaan dan pengamatan pembelajaran

 

–    Aspek kemandirian guru dalam melakukan diskusi dan konsolidasi hasil-hasil pembelajaran

Aspek-aspek  evaluasi yang dilakukan ditinjau dari:

a.    Kemampuan guru untuk mempertanyakan aspek penting yang harus diangkat dalam diskusi dan konsolidasi pasca pengamatan

b.    Kemampuan guru untuk mengaitkan pengetahuan ataupun analisis kondisi sekitar (sekolah dan kelas) sebagai bahan diskusi dan konsolidasi pasca pengamatan

c.    Kemampuan guru untuk memunculkan solusi atau ide kreatif dalam diskusi dan konsolidasi pasca pengamatan

Aspek-aspek Penting Dalam Pelaksanaan Model Alternatif Pelatihan dan Pembinaan Karya Tulis Guru

Dalam pelaksanaan model alternatif pelatihan dan pembinaan guru terdapat 4 (empat) aspek penting yang menjadi tolok ukur keberhasilan pelaksanaan pelaksanaan pelatihan dan pembinaan guru – antara lain:

1.    Aspek pembentukan kultur budaya ilmiah di sekolah

Pembelajaran bukanlah sesuatu yang “by accident” atau tiba-tiba terjadi, melainkan sebuah proses yang bersifat “by design” terencana, sistematis dan berkelanjutan. Melalui seorang guru, seorang siswa dibentuk dan diciptakan. Selanjutnya, yang kedua adalah adanya kurikulum bersama yang sederhana dan luwes. Kurikulum yang luwes dan sederhana akan memberikan ruang yang luas bagi kreatifitas guru dalam mengimplementasikan kurikulum tersebut secara nyata di dalam kelas. Dukungan ketiga berasal dari guru dan pelaku pendidikan lainnya. Harus difahami bahwa guru adalah bagian dari komunitas belajar di sekolah (teachers are members of learning communities) mencakup : (a) guru memberikan kontribusi terhadap efektivitas sekolah melalui kolaborasi dengan kalangan profesional lainnya, (b) guru bekerja sama dengan tua orang siswa, (c) guru dapat menarik keuntungan dari berbagai sumber daya masyarakat. Dalam hal ini pelatihan telah mendorong seorang guru untuk memiliki enam sikap dasar, yang antara lain :

1.    Mengkritik diri sendiri

2.    Terbuka terhadap masukan orang luar

3.    Mau mengakui kesalahan

4.    Mau menggunakan ide orang lain

5.    Mau memberi masukan yang jujur dan penuh respek

6.    Berkomitmen terhadap perubahan

Lebih jauh model alternatif pelatihan dan pembinaan guru ini ternyata memiliki dampak terhadap peningkatan kompetensi guru secara umum, khususnya dalam:

a.    Pemahaman guru secara mendalam tentang siswa (teachers are committed to students and their learning) yang mencakup : (a) penghargaan guru terhadap perbedaan individual siswa, (b) pemahaman guru tentang perkembangan belajar siswa, (c) perlakuan guru terhadap seluruh siswa secara adil, dan (d) misi guru dalam memperluas cakrawala berfikir siswa.

b.    Tingkat penguasaan materi oleh guru (teachers know the subjects they teach and how to teach those subjects to students) mencakup : (a) apresiasi guru tentang pemahaman materi mata pelajaran untuk dikreasikan, disusun dan dihubungkan dengan mata pelajaran lain, (b) kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran (c) mengembangkan usaha untuk memperoleh pengetahuan dengan berbagai cara (multiple path).

c.    Metode dan strategi pembelajaran (teachers are responsible for managing and monitoring student learning) mencakup: (a) penggunaan berbagai metode dalam pencapaian tujuan pembelajaran, (b) menyusun proses pembelajaran dalam berbagai setting kelompok (group setting), kemampuan untuk memberikan ganjaran (reward) atas keberhasilan siswa, (c) menilai kemajuan siswa secara teratur, dan (d) kesadaran akan tujuan utama pembelajaran.

Penutup

Berdasarkan hasil pengembangan model alternatif pelatihan dan pembinaan yang ada dan telah dilaksanakan ada 2 (dua) hal penting yang dapat dicatat:

1.    Pelatihan dan pengembangan profesi guru perlu dilakukan secara lebih komprehensif, dan berjenjang agar mampu melibatkan guru-guru sesuai dengan latar belakang pengalaman dan kemampuan yang dimiliki

2.    Pembentukan kelompok pengembangan yang beranggotakan guru-guru dan pemerhati pendidikan di sekolah, mampu menjadi sarana bagi perbaikan kualitas penyelenggaraan pembelajaran dikelas dan budaya ilmiah di sekolah. Hal ini amat memungkinkan terlebih apabila telah menjadi sebuah kebijakan.

Sebuah harapan untuk mengembalikan pendidikan sebagai sebuah kebutuhan yang dimiliki bersama oleh setiap komponen masyarakat, bukan hanya guru seorang. Model alternatif diharapkan pada gilirannya akan mampu memunculkan guru-guru yang kreatif dan inovatif yang akan membantu dan membekali siswanya dimasa mendatang.

Daftar rujukan :

DIKNAS. 2007. Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar

International Development Center of Japan. 2006. Laporan awal-Program for Strengthening In-service Teacher Training of Mathematics and Science Education at Junior Secondary Level (SISTTEMS)

Lewis, Catherine C. 2002. Kaji pembelajaran: A handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA : Research for Better Schools, Inc.

Purwastuti, dkk. 2002. Widyaiswara Peranannya dan Angka Kreditnya: Bahan Ajar Diklat Kewidyaiswaraan Berjenjang Tingkat Pertama. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia

Rahayu, Sri. 2005. Kaji pembelajaran sebagai model pengembangan profesi guru dalam upaya meningkatkan pembelajaran MIPA.Makalah komprehensif Universitas Negeri Malang

Sudrajat, Akhmad. 2007 Kompetensi Guru dan Peran Kepala Sekolah. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/xmlrpc.php?rsd

Suhardjono. dkk. 2001. Pedoman Penyusunan Karya Tulis Di Bidang Pendidikan dan Angka Kredit Pengembangan Profesi Guru. Departemen Pendidikan Nasional

Supardi. 2006. Pengembangan Profesi dan ruang Lingkup Karya Tulis Ilmiah. Departemen Pendidikan Nasional

Susilo, Herawati. 2005. Kaji pembelajaran: Apa dan mengapa?. Makalah komprehensif Universitas Negeri Malang


@sumber/dikutip: Majalah MEDIAN LPMP Jatim, edisi kedua tahun 2011

Iklan

Tentang bamboszone

Blog Pendidikan, Pelatihan dan Bimbingan Belajar
Pos ini dipublikasikan di ARTIKEL dan MAKALAH, BERANDA, GURU. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s