APAKAH WANGSA ARYA LELUHUR ORANG BANYUWANGI ?

Sejak kecil saya telah diberitahu oleh mbak saya, ayah saya, dan Kakek Lilir seorang sepuh dari Paiton, orang “pintar” , yang menyembuhkan ketika saya sakit( pada tahun 1950an di Banyuwangi masih tidak ada di desa), bahwa leluhur orang Banyuwangi adalah orang seperti Kakek Lilir, Kakeek Latief, dan orang yang berperawakan seperti beliau,yaitu orang yang berperawakan tinggi besar , kukuh , sawo matang, berhidung mancung dan perempuannya seperti mbah wadon (nenek) ,langsing, berhidung mbangir ( mancung kecil) . Dan saya bertemu banyak orang seperti itu pada saat kecil . Laki 2nya berikat kepala yang mengarah kebawah ( perhatikan lukisan Mr Bonet, yang melukis ponorama Panen zaman 30an , terutama lelaki berudeng kebawah)  dan perempuannya tidak lepas memakan sirih. Tidak hanya itu, ayah saya ,telah mengenalkan petilasan leluhur Banyuwangi, patung watu kebo , di halaman S.D Watu Kebo lama, Watu loso di Alasmalang, Watu Kenong ( Batu berbentuk gamelan kenong) di Paiton, Sitinggil di Muncar dan banyak tempat , yang kebanyakan berbentuk batu halus ( Dolmen?).

Oleh karena itu saya selalu menaruh minat yang besar untuk membaca dan mencatat sesuatu yang berkaitan dengan Banyuwangi.

Tetapi ketika dipentaskan Kadung dadi Gandrung, Wis, sebuah kesenian Banyuwangi (Using) di Taman Ismail Marzuki oleh bapak Dedy Luthan tahun 1970 ,saya jadi bertanya tanya, tentang leluhur orang Banyuwangi itu, karena perawakan orang Using yang diajak dalam rombongan itu sungguh berbeda dengan gambaran maupun yang saya temui pada saat kecil saya, karena perawakan mereka lebih cenderung ke Mongolid, sedang perawakan yang pernah saya temui lebih cenderung ke Arya.

Oleh karena itu saya mulai menghimpun data tentang Banyuwang, baik mengenai adat, sejarah maupun pernak perniknya.

Menyadari bahwa saya bukan ahli sejarah , saya hanya mencatat , menyimpan catatan tersebut.

Tetapi ketika saya menjadi facebooker, melihat adik2 yang begitu antusias membicarakan Banyuwangi , adat istiadat, kesenian……saya beranggapan , saya perlu mereconstruksi ingatan dan catatan saya tentang leluhur Banyuwangi.

Apalagi ada kepedihan dalam hati saya , ketika menemukan tulisan Sir Stanford Rafless dalam Hystory of Java yang menulis sbb:

From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.

Dan pada kenyataannya , perawakan orang Banyuwangi seperti yang saya temui waktu kecil , semakin menghilang dari tanah Banyuwangi.

Perang Paregreg dan Negara Kertagama membuka fakta.

Saya akan menyingkap sejarah leluhur saya (Banyuwangi) dari tulisan Prof DR Slamaet MULYANA.

Dengan jelas dan terang bpk Slamet Mulyana, sejarahwan itu , menulis tentang Perang Paregreg. Bahwa perang itu terjadi setelah Prabu Hayamwuruk wafat.

Perkawinannya dengan permaisuri Dewi Sori , hanya melahirkan putri sedang perkawinannya dengan selir( Kedaton Wetan/majapahit Timur) melahirkan seorang putra. yang kemudian bernama Bhre Wirabumi dan diangkat sebagai raja Majapahit Timur*)(Blambangan dan Bali?),sedang Majapahit Pusat tetap ditangan Prabu Hayamwuruk. Ketika Prabu Hayamwuruk wafat, pewarisan tahta tidak tertata dengan baik dan jatuh ke putrinya Dyah Kusumawardhani yang tidak memiliki kecakapan memerintah , maka suaminya Wikramawhardana secara perlahan dan pasti mengambil alih kekuasaan, dan kekuasaan inipun nanti diwariskan kepada putrinya Dewi Suhita. Sejak diambil alih oleh Wikramawardana, sebenarnya telah timbul masalah, apakah menantu lebih berhak dari putra dari selir, apalagi ketika mahkota diserahkan kepada putrinya Dewi Suhita padahal dasar pewarisan adalah Patrilineal…..

Kedudukan Bhree Wirabhumi  sebenarnya juga sangat kuat. Karena sejak kecil Bhree Wirabhumi telah diambil anak oleh Bhree Daha ( keturunan langsung dari Ken Arok dan Ken Dedes) dan permaisuri dari Bhree Wirabhumi adalah puteri dari adik HayamWuruk Sri Wardhaniduhitateswari dengan Singhawardhana (BHree Pagunan) dari kedaton Majapahit kulon.( Bait 12.14.16 NAGARA KRTAGAMA. Prof Dr.Drs I.Ketut Riana S.U 2009)

Disamping itu Negara Kertagama mengungkap fakta lain, sejak Wikramawardana menjadi raja, kedudukan para pendeta Hindu Siwa mulai tersingkir. Seperti diketahui Wikramawardana adalah seorang penganut Budha, dan diakhir pemerintahannya malah menjadi Bhiksu. Sedangkan prabu Hayamwuruk adalah seorang Hindu Siwa dan telah dinobatkan sebagai Sang Hyang Giri Nata Bathara Siwa( perwujudan dewa Siwa di bumi) sedang Bhree Wirabumi adalah seorang Hindu Siwa yang teguh.

Perselisihan tersebut akhirnya memuncak menjadi Perang Paregreg( Perang yg terjadi berkali kali). Bhree Wirabumi tak terkalahkan.Karena itu Wikramawardhana akhirnya berjanji akan mengangkat Bhree Wirabhumi menjadi raja Majapahit setelah pemerintahan beliau dan sebagai tanda keseriusan janji Wikramawardhana menikahkan adiknya dengan Bhre Wirabhumi. Tetapi rupanya Wikramawarhana tidak memenuhi janji tersebut dan malahan mengangkat putrinya Dewi Suhita menjadi raja Majapahit. Tentu hal ini tidak diterima oleh Bhree Wirabhumi. Tetapi rupanya Dewi Suhita,telah mempersiapkan pewnyerbuan ke Blambangan dengan mengerahkan seluruh kekuatan tempurnya yang dipimpin Bhre Narapati.( Dalam versi lain penyerbuan ini dipercepat karena Panglima Cheng Ho mengunjungi Blambangan . Padahal kunjungan ini dilaksanakan semata mata karena panglima Cheng Ho , mendengar kemakmuran Blambangan ,dan berkeinginan menambah perbekalan, tetapi oleh Bhree Narapati ditafsirkan sebagai dukungan panglima Cheng Ho kepada Blambangan…..sampai ketemu ditulisan wajah Mongolid dalam Mysteri Gandrung Banyuwangi)

Bhre Narapati tidak hanya mengalahkan Bhree Wirabumi tetapi juga memancung kepala Bhre Wirabumi.

Pemancungan kepala Bhre Wirabumi oleh Narapati dianggap kesalahan besar. Dia tidak sepantasnya melakukan seperti itu, terhadap putra Sang Hyang Giri Nata Bathara Siwa atau Prabu Hayamwuruk, keturunan darah biru wangsa Sanggramawijaya, penganut dan pelindung brahmana dan agama  Hindu Siwa. Maka tiga tahun kemudian Narapatipun dipancung dan derajat Wirabhumi dipulihkan sedang  jenazah Bhre Wirabhumi diagungkan kembali karena makamnya dicandikan yaitu Candi Lung. di Lumajang.

Setelah pemancungan Bhre Wirabumi perebutan tahta dan dendam kesumat merontokkan Majapahit

.

Siapakah wangsa Sanggramawijaya.

Wangsa Sanggramawijaya menurut para sejarahwan adalah raja 2 yang keturunan Ken Dedes dan Ken Arok. Seperti diketahui Ken Arok merebut Ken Dedes dari Tunggul Ametung , seorang akuwu ( bupati) Tumapel.

Perebutan ini sepenuhnya mendapat restu dari Brahmana Hindu Siwa, sang Bagawan Lohgawe karena perkawinan antara Ken Dedes dan Tunggul Ametung, dianggap para brahmana Hindu Siwa, sebagai perkawinan yang tidak setara, dan merupakan pemaksaan dari Tunggul Ametung. Tunggul Ametung tidak memiliki kepantasan sedikitpun kawin dengan Ken Dedes karena kedudukan dan kastanya lebih rendah dan dari sekte yang menyimpang9. Maka para Brahmana Hindu Siwa , memerintahkan Ken Arok, ksatrya Brahmana merebut kembali Ken Dedes dari Tunggul Ametung.

Pramudya Ananta Toer  dalam karya tulisnya Ken Dedes dan Ken Arok mendeskripsikan , tentang kelompok Hindu Siwa ini, sebagai ras Arya yang sangat exclusive dan menjaga keturunan dengan ketat dan teguh terhadap agamanya. Dan sangat exclusivenya ras ini , sehingga oleh  Drs Made Sudjana  MA( Leiden University) seperti Negeri Tawon Madu. Jika kerajaan di Hindu/ Budha /Islam di Jawa hancur dalam keadaan terpecah belah , maka ras Arya ini, perpecahan hampir tidak ada. Jik terjDI konflict, maka yang kalah akan bersatu kembali dengan yang menang ,kemudian bertransformasi menjadi kerajaan baru. begitu seterusnya sehingga ibukota kerajaan Blambangan pindah tujuh  kali (LUMAJANG.PANARUKAN, KEDAWUNG/PUGER. BAYU .MACAN PUTIH.KUTALATENG /BENCULUK. ULUPAMPANG/MUNCAR) .Sedang Banyuwangi adalah ibukota bentukan Kompeni

Kapan kelompok ini datang ke Jawa

Sejarahwan mencatat mereka (Arya) telah berada di Jawadwipa ( Pulau Jawa) ,sejak wangsa Sanjaya diabad ke tujuh. Malahan ada yang berpendapat wangsa Sanjaya , sebenarnya berasal dari Jambudwipa ( India).Mereka adalah pembangun atau setidaknya terlibat secara langsung dengan pendirian candi Prambanan(Hindu Siwa) dan candi Borobudur.( Budha) .

Ada sejarahwan yang berpendapat semula candi Borobudurpun dipersiapkan sebagai candi Hindu Siwa, seperti terlihat bentuk pada bangunan dasar dan konsep kontruksinya, tetapi karena wangsa Sanjaya (Hindu Siwa) kalah dengan wangsa Syailendra (Budha Mahayana) , maka candi Borobudur diteruskan sebagai candi Budha.

Maka kelompok ini dengan jelas keberadaaannya terlacak mulai dari wangsa Sanjaya,Syaelendra, Singhasari, Majapahit , Blambangan dan Bali

Bagaimana nasib kelompok Arya (Hindu Siwa ) di Blambangan ,setelah perang Paregreg

BLAMBANGAN DAN MENGWI

Setelah perang Paregreg , Majapahit kulon tanpa dukungan Majapahit wetan akhirnya runtuh. Dan seperti dicatat oleh Negara Kertagama , karena perlakuan yang tidak pantas raja 2 sesudah Hayamwuruk, terhadap Brahmana dan penganut Hindu Siwa maka mereka sebagian exodus ke  Majapahit Wetan. Dengan dukungan pelarian dari Majapahit kulon dan tanah yang subur, Majapahit Wetan, secara berangsur pulih menjadi kekuatan yang besar.

Dan kerajaan Blambangan masih mampu menghadang expansi kerajaan Demak Islam, dan mengalahkan pasukan Demak di Penarukan, karena dalam pertempuran itu Sultan Tranggono gugur .

Dan Kemakmauran inilah , yang mendorong Mataram ( Surakarta ) berusaha sekuat tenaga menguasai Blambangan.Dan serangan bertubi tubi dilakukan pada  1639,1648,1665) . Tetapi Blambangan mampu menahan serangan tersebut , walaupun sebagian ada yang mengungsi ke Klungkung ( Hystory of Java , Stanford Raflees)tetapi kerajaan Blambangan tetap menjadi menjadi kerajaan yang makmur, berkat hubungannya dengan Portugis dan Inggris. Kejayaan Blambangan mencapai puncaknya pada masa raja Tawangalun ke 2.  Begitu dihormatinya raja ini , jumlah istrinya mencapai 400 orang . Dan  ketika raja Tawangalun II wafat  270 istrinya melakukan Sati , ( Terjun ke api Ngaben Raja Tawangalun) .( Disertasi  DR Sri Margana  di Universitas Leiden , Belanda,   “Java’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony of Blambangan“ Tempo edisi tgl13 dan 19 September 2010). Dan tercatat sebagai Sati terbesar dalam catatan sejarah.

Begitu dihormatinya prabu Tawangalun II oleh adipati diluar Blambangan, hampir dapat dipastikan para adipati itu memiliki hubungan kekeluargaan dengan dinasty Tawangalun ( Madura, Surabaya, Banger /Probolingo, Lumajang) .( Babad Wong Agung Wilis. Puradisatra) . Dan kawula Blambangan yang mengungsi ke Balipun kerjaan Klungkung diberi tanah perdikan yang kemudian dikenal sebagai kerajaan Mengwi.

Pura Taman Ayun ,yang menghadap ke Jawa.

Maka pantas kiranya pendiri kerajaan Mengwi( dari Bali Selatan),I Gusti Agung Anak Agung mengangkat dirinya dengan gelar kebesaran Tjokorde Sakti Blambangan . Beliau tidak saja mencantumkan Blambangan sebagai namanya tetapi juga membangun Pura Paibon ( yaitu Pura yang diperuntukan untuk ibu suri) yang dikenal sekarang sebagai Taman Ayun.

Para sejarahwan menganggap taman ini lebih bernuansa Jawa Kuno ( Hindu Siwa Jawa) daripada Hindu Siwa Bali , Pura ditempat itu tidak menghadap ke Gunung Agung dan lebih dari itu ditaman ini terdapat 64 tugu leluhur ( batu dengan permukaan halus atau Dolmen yang mirip dengan watu loso,yang ada di daerah Rogojampi ke barat).

Babad Blambangan  Gancar , dalam babad Wilis , menulis, bahwa   raja Mengwi Tjokorde Sakti Blambangan , sangat dihormati rakyat Blambangan  baik yang hindu maupun Muslim, dan dia mengakui sebagai berdarah Blambangan. Dan ketika Mengwi digempur Buleleng , maka kerajaan Blambangan mengirim bala bantuan , sehingga gempuran Buleleng dapat dipatahkan. Dan ketika Kompeni didukung Mataram menggempur Blambangan maka Mengwi juga mengirim bala bantuan untuk bertempur melawan Kompeni dan Mataram..Sayang perang dahsyat, yang melibatkan kapal perang Inggris , persenjataan Inggris  serta 6000 pasukan yang terdiri pasukan Blambangan, Bali , China,dan Bugis  satu perang frontal yang amat dahsyat  baik didarat maupun dilaut. Ternyata perang ini  di bonsai oleh Belanda dan anteknya, dan menjadi perang yang dilupakan sejarah dan orang Blambangan.

Beruntung penulis masih mendapat fakta baru, yaitu adanya tulisan pemusnahan orang Arya di Blambangan ( Banyuwangi)) dilakukan secara sistematis , Sir Stanfford Raffles dalam buku terkenalnya : History Of Java “ menulis

From that moment , the provinces subjected to its authority, ceased to improve. Such were the effect of her desolating system that the population of the province of Banyuwangie,which 1750 is said to have amounted to upwards of 80.000, was in 1811 reduce to 8000.

Sebuah survey demographie setelah perangwong Agung Wilis dan  Puputan Bayu menjadi bukti tulisan Sir Stanford Raffles tsb bahwa  Blambangan hanya memiliki 120 sampai 130 kampung asli,dan tiap kampong hanya dihuni paling banyak 35 keluarga, malahan ada kampong yang tidak berpenghuni ( antara lain Tabanan).

Desolating system yang dilakukan Belanda sendiri, maupun Penguasa Local (boneka Belanda) terhadap kelompok Arya Blambangan pada saat itu sungguh mengerikan,mulai dari kerja rodi, membentuk persepsi yang jelek melalui cerita Menakjinggo Damarwulan ( Serat Kanda, serat Blambangan, Serat Damarmulan) sampai perlakuan yang sadis terhadap para ksatrya Arya Blambangan. Para ksatrya Blambangan digelandang ke Surakarta, dan di jadikan percobaan  untuk menguji senjata. Apabila senjata tersebut mampu merobek tubuh perkasa ksatrya Blambangan, maka senjata tersebut diakui sebagai senjata sakti. ( Jawa’s Last Frontier: The Struggle for Hegemony Blambangan, desertasi Sri Margana di Universitas Leiden)

Akibat tindakan ini selain jumlah populasi yang menyusut drastis juga berakibat populasi perempuan kelompok Arya Blambangan lebih banyak dari kelompok laki laki.

Pemerintahan Sir Stanford Raflles 1811 sd1816,( ada bukti lain sebenarnya Inggris tetap menguasai Bengkulu dan Banyuwangi sampai Raffles menguasai Singapore yaitu 1819) memberi sedikit bernafas lega kelompok ini. Pembangunan mulai digerakkan , para pendatang dari segala suku dan bangsa berdatangan ke Banyuwangi. Maka terjadilah perkawinan campuran gadis Arya Blambangan yang cantik dengan para pendatang, demikian pula para prianya.

Tidak heran jumlah mereka yang asli semakin mengecil, dan penulis hanya menjumpai mereka yang sudah tua pada tahun 1950an. Mungkin zaman revolusi dan kemerdekaan telah mematahkan exclusive mereka , dan mereka sekarang malah menjadi pluralis kawin dengan suku Nusantara maupun dengan suku bangsa lainnya.Dan mereka yang pindah ke Balipun masih menamakan dirinya sebagai SUGIAN JAWA, dan dalam upacara tertentu mereka akan memenuhi kewajibannya yaitu MATUR ke BLAMBANGAN.

Kesimpulan

Itulah leluhur kita orang Banyuwangi, ras Arya yang telah menempuh perjalanan panjang dibumi Jawadwipa Sebagian telah pindah ke Bali, sebagian terbunuh dalam Perang Puputan Bayu, dan lebih banyak lagi yang mati karena desolating system Belanda Sebagian masih tinggal di Banyuwangi ,dalam jumlah kecil danterpencar dalam diam dan sunyi dan kemudian kawin dengan para pendatang. Saya pernah menggapai tangannya dan berada dalam pangkuannya…Kakek Lilir , kakekek Latief , dan orang yang berudeng batik yang menjurai kebawah, tubuh kekar , kulit sawo matang, mata tajam , hidung agak mancung dan perempuan yang langsing , hidung bangir, warna kulit lebih cerah, dengan peninggalan watu loso, watu kebo, watu kenong …..Meninggalkan exclusivenya, menjadi Pluralis , tetapi tidak pernah kehilangan Dignity( bahasanya tetap digunakan siapapun yang tinggal di Banyuwangie walau populasinya kecil), begitu juga Kreativitasnya dalam kebudayaan dan kesenian tidak pernah punah seperti ketika dia hadir dulu di bumi Jawadwipa, dalam pendirian candi2 , karya satra Ramayana, Bharatayuda, Arjuna Wiwaha,NegaraKertagama, Sri Tanjung yang terpahat di candi

Mudah2an kita mampu memeliharan Nilai2 tersebut.

NOTE;

*)lihat tulisan saya , Perang Paregreg tidak me runtuhnya Majapahit Timur dan Genocida wong Blambangan

Ditulis dalam Sejarah

HARI TERAKHIR HIDUP RASULULLOH MUHAMMAD S.A.W

•April 27, 2010 • 2 Komentar

Setelah menunaikan Haji Wada’(Perpisahan ),Rasul mulai merasa sakit, beliau sering mengebatkan selembar kain di kepalanya.Tetapi sebagai seorang pekerja keras , beliau tidak pernah mau berdiam diri atau beristirahat santai ditempat tidur , beliau tetap pergi ke mesjid untuk memgimani Sholat dan memberikan wejangan kepada ummat. Dan ini adalah sakit yang pertama beliau rasakan, karena selama hidupnya beliau tidak pernah sakit., oleh karena itu seorang tabib yang dipersembahkan raja Mesir , yang menjaga kesehatan beliau , terpaksa pulang ke Mesir.

Dalam keadaan sakit itu, nabi menunjuk Usama , seorang pemuda belia untuk memimpin expedisi ke Rumawi, suatu hal yang menunjukkan visiNya yang mendahului zaman, dan pesan ini terus berkobar sampai saat ini, sehingga Konstatinopel ibukota Romawi itu tetap dipegang kukuh oleh Turki.

Tetapi ketika itu , golongan tua dan conservative, meragukan Visi nabi ini, dan nabi sekali ini perlu meyakinkan lagi kaum conservative itu.

Pada hari yang baik, dengan pakaian yang pantas, beliau memimpin sholat dan setelah itu,menuju mimbar untuk berkotbah. Sebagai mana biasa kutbah itu didahului dengan mengucapkan puji dan syukur kepada Alloh,dan mendoakan serta memohon ampun untuk para sahabat yang telah gugur,kemudian beliau bersabda”

“ Saudara,saudaraku. Laksanakan keberangkatan Usama itu. Demi hidupku. Kalau telah banyak dibicarakan tentang kepemimpinannya. Tentang kepemimpinnya ayahnya. Maka dia telah pantas memimpin.

Kalimat ini adalah kalimat kedua yang membuat risau Abubakar,setelah kutbah di Haji Wada’ itu, tetapi ada peristiwa yang membuat lebih cemas lagi Abubakar..Suatu pagi Rasululloh sujud sangat lama, ternyata sujud itu dipersembahkan untuk para Syuhada , menghormati para syuhada dan memohon ampunanNYA, kemudian Rasullulloh menyampaikan kepada Abubakar , kalimat bijak”

“ Alloh telah memberi anak kunci dunia ini ,serta kekekalan hidup didunia kepada hambanya , dan pilihan untuk hidup disurga dan bertemu Alloh, dan hambanya memilih pilihan kedua untuk tinggal di surga dan bertemu denganNYA.,

Abubakar sangat memahami siratan kata2 ini, dan menyadari sepenuhnya arti kata hambanya itu, karena itu beliau kemudian tidak mampu menahan tangisnya. Terasa Kutbah nabi yang Agung di Haji Wada’ masih terngiang ditelinganya, begitu juga suara gemuruh kaum muslimin menjawab pertanyaaan beliau diakhir kutbahnya .

Ketika itu beliau memohon petunjuk Alloh “ Ya Allah ! Sudahkah hamba sampaikan ?. Serentak para hadlirin dari segenap penjuru Arafah menjawab” Allahumma na’am ( Ya Alloh , benar)….

Kemudian rasulullah mengulangi lagi untuk penegasan “ Ya Allah apakah telah aku sampaikan ? sekali lagi para hadirin menjawab lebih menggetarkan lagi “ Allohumma na’am ( Ya Alloh , benar).

Kemudian Rasulullah mengangkat tangannya keatas. ´Ya Alloh , saksikanlah’.

Rasa sesak dada Abubakar ,sudah tak tertahankan dan tubuhnya bergetar, dan getaran tubuhnya semakin tak tertahan ketika beliau mengingat Rasul membacakan firman terakhir.

” Hari ini telah AKU sempurnakan agamamu ini untuk kamu sekalian, dan AKU cukupkan NikmatKU kepadamu,dan yang AKU sukai Islam ini menjadi agamamu,

Tubuh Abubakar segera terguncang, karena itu rasul kemudian menepuk bahunya” Tenanglah, tenanglah, sahabatku.” Ujar nabi dengan lembut.

Di hari yang lain , rasul, memanggil Aisyah, mengingatkan bahwa beliau masih memiliki uang tujuh dinar. Kuatir bila beliau meninggal , harta tersebut masih ditangan beliau, maka beliau meminta supaya uang tersebut disedekahkan. Karena kesibukan merawat beliau rupanya Aisyah lupa, maka nabi mengingatkan Aisyah dan meminta uang tersebut. Setelah uang tersebut digenggaman nabi , beliau bersabda

” Bagaimana jawab Muhammad, kepada Alloh,sekiranya beliau menghadap Alloh, sedang uang ini masih ada ditangannya.

Seketika itu Aisyah menyedekahkan dinar tersebut kepada kaum fakir miskin.

Suatu ketika ketika Fatimah , putri nabi itu, sering sekali menjenguk belaiu sakit .Apabila dia datang, menemui nabi , ia menyambutnya dan menciumnya.Pada pertemuan yang terakhir , Fatimah menciumnya. Kali ini nabi memeluknya, dan kemudian membisikkan kata2. Tiba Fatimah menangis, setelah reda tangisnya, nabi membisikkan kata2 lagi dan kemudian Fatimah tertawa. Ketika nabi telah meninggal, Aisyah menanyakan hal itu pada Fatimah , dan Fatimah menjelaskan, bahwa rasul menyampaikan bahwa beliau telah sampai takdirnya bahwa beliau akan meninggal, maka Fatimaghpun menangis,setelah reda menangis, beliau menyampaikan bahwa setelah itu akan menyusul Fatimah , sehingga Fatimah dapat menemani beliau disurga,maka Fatimapun tertawa. Alangkah indahnya peristiwa ini.

Pada tanggal 12 Rabiul Awal, Abubakar yang duduk di Mi’ rab terusik karena para jamaah agak ribut, maka Abubakar melihat kebelakang, ternyata rasul hadir dalam mesjid, dalam keadaan segar.Beliau tampak jauh lebih baik . Bahkan ada yang mengatakan bahwa beliau begitu tampan, cerah, seluruh aura kerasulannya muncul. Abubakar segera duduk mendampinginya, tetapi nabi meletakkan tangan dibahu Abubakar dan mendorongnya dengan lembut serta mempersilahkan Abubakar tetap didepan duduk disampingnya sehingga ibadah sholat subuh selesai.

Setelah itu rasul , kembali ke rumah Aisyah,tetapi menjelang siang , panas badan rasul meningkat, Aisyah memanggil seluruh keluarga maka ketika itu Fatimah menciumnya dan mengatakan

” Alangkah beratnya penderitaan ayah.”

Tetapi rasul tersenyum dan menjawab “ Tidak anakku. Takkan ada lagi penderitaan sesudah hari ini.

Fatimahpun tidak mampu menahan tetesan air matanya. Suasana sedih seketika menjalar keseluruh rumah itu.

Setelah itu datang seorang laki laki dari keluarga Abubakar sambil membersihkan giginya dengan siwak, rasul memperhatikan orang laki laki tersebut.

Bunda Aisyah segera faham pandangan nabi tersebut, maka Bunda Aisyah meminta sebagian siwak tersebut, kemudian melembutkannya. Nabi bersandar pada tubuh Bunda Aisyah , dan Bunda Aisyah memberikan siwak yang telah dihaluskan itu kepada nabi, kemudian nabi menggosokkan siwak tersebut kemulutnya.

Begitu bahagianya beliau sehingga Aura kenabiannya memancar seketika.

Telah bersih seluruh badannya , telah ditunaikan semua tugasnya.

Kemudian badannya agak memberat ditumpangkan pada Aisyah, dan nabi dengan tersenyum seakan menyapa seseorang datang menjemputnya dan beliau berkata

“ Ya Ar Rafiq’l .A’la( Ya Handai Tertinggi dari Surga.)

Begitu indah kepergian beliau menghadap Rabbnya. Bak Upacara Agung……SUNYI , seakan seluruh alam memeluknya…………………………………………………………

sehingga Aisyah tidak menyadarinya, dan ketika dia merasakan badan nabi memberat ,beliau baru sadar dan berkata” Karena kebodohanku dan kurangnya pengalamanku lah, aku begitu lama menyadari , bahwa rasul telah wafat’

Innalillahim wainna illaihi rojiun.

Dan mulai saat itu , terdengarlah suara orang mengaji dan dengung yang tiada akhir ummat mengirim Selawat dan doa ,pujian dan mohon ampun…..seperti kata sufi Turki, Yunus pecinta nabi yang berapi api…..

Setiap lebah yang memasuki sarangnya

Mendengung seribu satu rahmat tentang Muhammad ( Y 524)

Rujukan, sejarah nabi yang disampaikan ulama 2 sepuh dan

1. Sejarah Hidup Muhammad oleh Husain Haekal ( Terjemah Ali Audah)

2. Muhammad Sang Nabi ( sebuah biografi kritis) Karen Amstrong

3. Muhammad Prophet for our time .Karen Amstrong

4. Dimensi Mistik Dalam Islam ..Annemarie Schimmel

“KEMBANG GALENGAN”Dokumen

Tentang bamboszone

Blog Pendidikan, Pelatihan dan Bimbingan Belajar
Pos ini dipublikasikan di BANYUWANGI, BERANDA, KEMBANG GALENGAN, WIKIPEDIA. Tandai permalink.

Satu Balasan ke APAKAH WANGSA ARYA LELUHUR ORANG BANYUWANGI ?

  1. Ping balik: APAKAH WANGSA ARYA LELUHUR ORANG BANYUWANGI ? « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s