SEKILAS TENTANG MASYARAKAT OSING

Secara administratif orang Using (Osing) bertempat tinggal di Kabupaten

Banyuwangi, sebuah kabupaten yang terletak di ujung timur Provinsi Jawa Timur.

Beberapa abad yang lalu, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten

Banyuwangi ini merupakan wilayah utama Kerajaan Blambangan. Wilayah

pemukiman orang Using makin lama makin mengecil, dan jumlah desa yang

bersikukuh mempertahankan adat-istiadat Using juga makin berkurang. Dari 21

kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, tercatat tinggal 9 kecamatan saja yang diduga

masih menjadi kantong kebudayaan Using. Kecamatan-kecamatan tersebut adalah

Banyuwangi, Giri, Glagah, Kabat, Rogojampi, Songgon, Singojuruh, Cluring, dan

Genteng (Sari, 1994:23).

Identitas budaya suatu masyarakat tertentu selalu menghadirkan pandangan

stereotipe. Begitu pula halnya dengan identitas budaya Using. Orang Using

diprasangkai sebagai sosok yang kasar (tidak punya tata krama), longgar dalam nilai,

terutama yang terkait dengan hubungan antarlawan jenis, dan memiliki ilmu gaib

destruktif yang disebut santet, pelet, sihir, dan sebangsanya (Subaharianto, 1996:3).

Di samping citra negatif tersebut, orang Using juga dikenal memiliki citra positif

yang membuatnya dikenal luas dan dianggap sebagai aset budaya yang produktif

yaitu 1) ahli dalam bercocok tanam; 2) memiliki tradisi kesenian yang handal; 3)

sangat egaliter, dan 4) terbuka terhadap perubahan (Sutarto, 2003).

Orang Using dikenal sangat kaya akan produk-produk kesenian. Dalam

masyarakat Using, kesenian tradisional masih tetap terjaga kelestariannya, meskipun

ada beberapa yang hampir punah. Kesenian pada masyarakat Using merupakan

produk adat yang mempunyai relasi dengan nilai religi dan pola mata pencaharian di

bidang pertanian. Laku hidup masyarakat Using yang masih menjaga adat serta

1 Makalah disampaikan pada acara pembekalan Jelajah Budaya 2006 yang diselenggarakan oleh Balai

Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta, tanggal 7 – 10 Agustus 2006.

2 Peneliti Tradisi, Universitas Jember Jawa Timur.

pemahaman mereka terhadap pentingnya kesenian sebagai ungkapan syukur dan

kegembiraan masyarakat petani telah menjadikan kesenian Using tetap terjaga

hingga sekarang. Tulisan ini akan memaparkan produk-produk kesenian Using yang

hingga sekarang masih memiliki pendukung yang kuat.

Produk-produk Kesenian Masyarakat Using

A. Seni Tari

1. Gandrung

Gandrung adalah seni tari khas masyarakat Using yang sekarang menjadi

maskot Kabupaten Banyuwangi. Seorang penari gandrung identik dengan perempuan

yang bergulu menjangan berkaki kijang, yang berarti lincah bagai rusa dan memiliki

suara yang merdu. Struktur pementasan gandrung meliputi jejer, paju, dan seblangseblang.

Musik iringan gending jejer yang semula rancak berganti menjadi lembut

dan penari melantunkan gending Padha Nonton sebagai lagu wajib pembuka.

Gandrung merupakan salah satu jenis kesenian tradisional Using yang

keberadaannya tetap diminati oleh masyarakat. Salah satu keunikan seni gandrung

ialah terpadunya gerakan tari yang dinamis dengan suara instrumen yang beragam

dan bersuara rancak bersahut-sahutan. Dalam pertunjukan gandrung seorang penari

gandrung seringkali melantunkan pantun-pantun Using baik yang terdiri dari dua

larik maupun empat larik. Pantun-pantun tersebut ada yang bernuansa agama dan ada

pula yang bernuansa asmara.

2. Seblang

Seni tari seblang merupakan tarian sakral yang berkaitan dengan upacara

magis untuk mendatangkan roh halus, roh leluhur atau Hyang. Jenis seni tari yang

hanya terdapat di Desa Olehsari dan Bakungan, Kecamatan Galagah, Kabupaten

Banyuwangi ini diperkirakan sebagai peninggalan kebudayaan pra-Hindu yang

sampai sekarang masih hidup dan tetap dilestarikan. Tari seblang adalah tarian yang

diiringi gamelan dan dilakukan oleh seseorang dalam keadaan kejiman atau tidak

sadarkan diri (intrance) karena kerasukan atau keserupan roh halus, roh leluhur, atau

Hyang. Tarian ini merupakan sarana pemujaan terhadap roh halus, baik roh yang

bersifat baik maupun yang tidak baik. Jadi, gerakan-gerakan yang ada pada tari

seblang merupakan gerakan tarian roh yang merasuk ke wadah penari. Ciri-ciri

gerakannya yiatu dilakukan dengan ritme yang monoton.

Pementasan seni tari ini hanya dilaksanakan sekali dalam setahun, yaitu

setiap tanggal 1 Suro bertepatan dengan dilaksanakannya upacara bersih desa atau

selamatan desa. Bila pementasan tari seblang tidak diadakan diramalkan akan

menimbulkan malapetaka bagi masyarakat desa Olehsari. Atas petunjuk roh halus,

pada saat ini pementasan tari seblang dilaksanakan pada setiap Hari Raya Syawal,

yaitu tiga atau empat hari sesudahnya. Pementasan tari Seblang dimulai pukul 13.00

sampai dengan pukul 16.00 selama satu minggu.

3. Barong

Kesenian barong merupakan teater rakyat yang memadukan unsur tari, musik,

dan lagu serta cerita yang telah baku dan turun-temurun. Pada awalnya, seni ini

merupakan seni pertunjukan yang bersifat sakral dan pementasannya dilaksanakan

hanya pada saat-saat tertentu, misalnya pada saat upacara bersih desa yang

diselenggarakan pada minggu pertama bulan Haji (Besar). Tetapi, dewasa ini seni

barong sudah menjadi pertunjukan yang bersifat hiburan sehingga bisa dipentaskan

pada saat pesta perkawinan, khitanan, atau pergelaran-pergelaran seni lainnya.

Kesenian ini merupakan seni rakyat yang secara khusus mengandung ciri

khas Using, baik yang menyangkut musik, tari, dialog, maupun ceritanya. Di

Kabupaten Banyuwangi yang masih mempertahankan orisinilitas kesenian barong

kurang lebih berjumlah empat kelompok, yaitu kelompok Seni Barong Kemiren,

Mandalikan, Mangli, dan Jambersari. Akan tetapi, dari keempat kelompok itu hanya

kelompok seni barong Kemiren saja yang masih utuh “keUsingannya” dan sering

melakukan pementasan.

Seni Barong di desa Kemiren diciptakan oleh Eyang Buyut Tompo pada

sekitar 1830-an. Pada saat itu di desa Kemiren ada pertunjukan Seblang yang

dimainkan Embah Sapua. Ketika penari seblang kesurupan, terjadilah dialog dengan

Eyang Buyut Tompo agar pementasan seblang dipindah ke desa Ole-Olean

(Olehsari), sedangkan di desa Kemiren dipentaskan seni barong. Sejak saat itu ada

ketentuan yang harus dipegang teguh oleh masyarakat, yakni masyarakat desa

Olehsari tidak boleh mementaskan barong. Seni Barong yang diciptakan Buyut

Tompo ini didasari oleh leluhur masyarakat Kemiren, Eyang Buyut Cili, yakni tokoh

yang dimitoskan dan dianggap sebagai danyang atau penjaga desa Kemiren. Oleh

karenanya setiap pementasan, yakni tatkala barong mengalami kesurupan yang

masuk adalah Buyut Cili.

4. Hadrah Kuntulan

Kesenian hadrah kuntulan lahir tidak terlepas dari sejarah perkembangan

Islam di Banyuwangi. Sebelumnya, hadrah kuntulan ini bernama seni hadrah

barjanji. Menurut beberapa seniman kuntulan berasal dari kuntul, nama sejenis

unggas berbulu putih, yang selanjutnya warna putih ini dijadikan sebagai warna

busana yang dipakai para pemainnya. Sementara itu, beberapa seniman yang lainnya

seperti Hasan Singodimayan, Andang CJ, dan Sudibjo Aries berpendapat bahwa

nama kuntulan secara etimologis berasal dari kata arab kuntubil yang artinya

terselenggara pada malam hari. Kata tersebut berkaitan dengan aktifitas santri setelah

belajar mengaji, yaitu untuk melepaskan rasa jenuh pada malam hari mereka

mengadakan kegiatan dengan melontarkan pujian-pujian yang berbentuk syair

barjanji dengan diiringi rebana disertai gerakan-gerakan yang monoton.

Pementasan seni hadrah kuntulan berupa tarian rodat (penari laki-laki) yang

diiringi dengan rebana ditingkahi vokal barjanjen atau asrokal. Pada awal

kelahirannya, di saat pementasan semua penarinya adalah laki-laki karena

masyarakat menganggap tabu dan melanggar ajaran agama Islam jika tarian tersebut

diperagakan oleh perempuan. Gerakan yang digunakan juga sangat sederhana, yaitu

gerakan yang menggambarkan orang shalat, wudu’ dan adzan. Dalam perkembangan

selanjutnya, seni hadrah kuntulan mengalami berbagai pernyempurnaan, baik dalam

instrumen musik, tarian, busana, maupun penampilan wanita dalam pementasan.

5. Padhang Ulan

Masyarakat Banyuwangi mempunyai sifat ceria, baik dalam permainan

maupun dalam kesenian. Ketika bulan purnama (padhang ulan) antara tanggal 13–17

bulan Jawa, kaum muda mengadakan permainan di perkampungan-perkampungan

maupun di pantai, baik secara berkelompok maupun berpasangan. Pada saat seperti

5

ini dimanfaatkan untuk bersenang-senang saja atau untuk mencari jodoh. Situasi

seperti inilah yang akhirnya memberikan inspirasi kepada para seniman Banyuwangi

untuk menciptakan lagu-lagu, gending, dan tari padhang ulan (terang bulan). Sesuai

dengan situasi yang melatarbelakanginya, maka tari padhang ulang mempunyai ciri

khas lincah, gembira, dan agak erotis.

6. Sabuk Mangir

Tari sabuk mangir memiliki latar belakang yang bersifat magis. Istilah sabuk

mangir merupakan perpaduan dari dua kata, yaitu sabuk berarti ikat pinggang dan

mangir nama sebuah desa di Rogojampi. Sabuk mangir terkenal sebagai sabuk sakti

orang Mangir. Berdasarkan kepercayaan bahwa ada kekuatan gaib yang berada

dalam sabuk tersebut, orang Mangir berusaha melawan musuh-musuhnya, baik yang

musuh yang fisik maupun non-fisik.

7. Puputan Bayu

Latar belakang tarian ini adalah sebuah ceritera perjuangan seorang wanita

bernama Sayuwiwit yang berperang melawan Belanda (VOC). Sayuwiwit

mengorganisir para pemudi di zamannya dalam sebuah pasukan wanita yang

disegani kawan maupun lawan. Pasukan wanita yang dipimpin oleh srikandi

Sayuwiwit ini yang melakukan perlawanan terhadap VOC dengan perang puputan.

Perang puputan adalah perang habis-habisan yang menimbulkan banyak korban, baik

di pihak lawan maupun di pihak Sayuwiwit. Perang puputan di desa Bayu inilah

yang menjadi inspirasi terciptanya tari puputan bayu.

8. Pupus Widuri

Pupus widuri terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Using, yaitu

pupus yang berarti daun muda dan widuri adalah nama sejenis makhluk cantik atau

bidadari. Jadi, makna kata pupus widuri adalah gadis muda yang sangat cantik

seperti bidadari. Oleh karena itu, tarian ini dilakukan oleh seorang gadis yang baru

menanjak remaja. Tari pupus widuri merupakan gabungan dari beberapa gerak tari

tradisional Banyuwangi, seperti tari seblang, tari gandrung, tari gridhoan, dan tari

sedemikian rupa sehingga menjadi suatu gerak yang harmonis dan bisa membuat

penonton terpesona, baik oleh gerakan maupun kecantikan penarinya.

9. Keter Wadon

Keter wadon adalah sebuah tari yang diilhami oleh kegiatan burung-burung

pipit yang lincah, bebas berkeliaran di udara, mencari makan di mana-mana tanpa

ada yang menghalangi, kecuali si anak nakal. Mereka beterbangan di udara, hinggap

di atas pohon, bermain di telaga bening, berjemur di panas matahari sambil

bercengkerama. Namun, malang karena seekor dari mereka jatuh dipanah, disumpit

atau ditembak oleh seseorang yang jahil sehingga ia ditinggal pergi oleh temantemannya

yang lari ketakutan dan mencari dunia yang lebih bebas dan aman.

10. Walang Kadung

Tari walang kadung adalah salah satu seni tradisional daerah Banyuwangi

yang penciptaannya berdasarkan pengalaman atau pengamatan terhadap kehidupan

walang kadung di pohon-pohon atau dedaunan. Walang kadung merupakan jenis

serangga yang biasa hidup di daun-daun muda pohon jambu kluthuk (jambu batu).

Jika diperhatikan, gerakan binatang ini sangat menarik, terutama pada kaki

depannya, kaki belakang yang panjang tidak pernah diam, kepalanya yang tidak

pernah tunduk, serta matanya yang selalu terbelalak.

11. Jaranan Buto

Kesenian jaranan buto berasal dari desa Cemetuk Kecamatan Cluring,

Kabupaten Banyuwangi. Istilah jaranan buto mengadopsi nama tokoh legendaris

Minakjinggo (terdapat anggapan bahwa Minakjinggo itu bukan berkepala manusia,

melainkan berkepala raksasa). Instrumen musik jaranan buta terdiri atas seperangkat

gamelan yang terdiri dari 2 bongan (musik perkusi), 2 gong (besar dan kecil) atau

kencur, sompret (seruling), kecer (instrumen musik berbentuk seperti penutup gelas

yang terbuat dari lempengan tembaga), dan 2 kendang. Sebagai isntrumen

peraganya/utamanya adalah replika (penampang samping) kuda raksasa yang terbuat

dari anyaman bambu. Wajah raksasa didominasi warna merah menyala, dengan

kedua matanya yang besar sedang melotot. Dalam pementasannya masih dilengkapi

dengan tiga jenis topeng buto (raksasa), celengan (**** hutan) dan kucingan (kucing)

yang kesemuanya terbuat dari kulit. Topeng-topeng ini ini harus digunakan secara

bergantian oleh para pemainnya, baik pemain laki-laki maupun pemain perempuan.

12. Campursari

Kesenian campursari disebut juga mocoan pacul gowang (seni baca naskah),

yang merupakan lahirnya seni pertunjukan yang kemudian dinamai seni campurcari.

Pementasan diawali dengan mocoan pacul gowang berupa pembacaan naskah lontar

berbahasa Jawa Kuna dan Jawa Pertengahan yang berisi riwayat Nabi Yusuf.

Pembacaan naksah lontar ini dilakukan secara ritmis, dan tunduk terhadap aturan

panjang pendek vokal (guru lagu), pupuh atau bait nama tembang (syair) yang

dilagukan. Pada umumnya pupuh yang digunakan adalah pupuh macapat yang

berasal dari tradisi Jawa, seperti Dandanggula, Kinanti, Pucung, Sinom, dan

Asmaradana. Seusai pembacaan naskah lontar, acara dilanjutkan dengan atraksi

penampilan jenis kesenian lain seperti, kuntulan, janger, gandrung, rengganis,

jinggoan, tarian daerah, kendang kempul, lawak, dan dangdutan. Satu genre

kesenian yang tidak masuk dalam paket campur sari adalah barongan.

13. Jinggoan

Istilah lain dari seni jinggoan adalah seni janger dan Damarwulan.

Masyarakat Using lebih suka menggunakan istilah jinggoan yang diambil dari nama

tokoh Prabu Minakjinggo sebagai pahlawan mereka, sedangkan nama janger

dikaitkan dengan dominasi pengaruh unsur Bali pada gamelan, tari, dan tatabusana

sebagai akibat terjadinya kontak budaya. Sedangkan bahasa yang digunakan adalah

bahasa Jawa Krama. Ini menandakan kepandaian orang Using dalam melakukan

adaptasi terhadap pengaruh budaya dari luar. Unsur-unsur Banyuwangi yang masuk

ke dalam kesenian ini antara lain seni angklung dan lagu-lagu Banyuwangen.

Dilihat dari bentuk ceritanya, kesenian janger merupakan pengambilan

bentuk kesenian langendriyan (ande-ande lumut) yang berasal dari Keraton Mataram

Islam di Jogjakarta. Kesenian langendriyan ini pada akhirnya di daerah Banyuwangi

berkembang menjadi bentuk dramatari yang dikenal dengan nama Damarwulan.

Cerita yang yang sering dipentaskan adalah cerita Bali yaitu Calon Arang, Agung

Jelantik, Sastra Dewa. Sedangkan cerita asli Banyuwangi adalah Sayu Wiwit, Wong

10

Agung Wilis (Minakjinggonya), dan Prabu Tawang Alun. Saat ini, ceritanya tidak

lagi terikat oleh cerita kepahlawanan Damarwulan ataupun Minakjinggo (misalnya

lakon Minakjinggo Diwisudo), tetapi dapat pula bercerita tentang kepahlawanan

tokoh-tokoh kerajaan Jawa masa lampau, seperti Geger Tuban, Pangeran Wilis, dan

Geger Majapahit, Babad Singosari, Babad Pajang, Babad Mataram, dan cerita

wayang (seperti lakon Kresno Duta, Kongso Adu Jago, dan lain-lain).

Kesenian janger atau jinggoan ini merupakan kesenian yang lengkap, yaitu

terdiri dari seni tari, seni drama, seni suara, seni lawak, dan seni lukis atau dekorasi.

Dalam pertunjukkannya, kesenian ini sangat komunikatif. Hal ini bisa dilihat ketika

penonton mengajukan permintaan kepada para pemain, terutama pelawak untuk

membawakan lagu-lagu populer, tembang Jawa atau Banyuwangen, gending, pantun,

atau tarian.

14. Praburoro

Praburoro berasal dari dua kata, yakni prabu yang berarti raja dan roro atau

rara yang berarti perempuan. Jadi, praburoro berarti raja perempuan atau ratu (Jw.

ratu wedok). Kesenian praburoro merupakan satu jenis seni dramatari dengan lakon

yang dipentasakan bersumber pada Serat Menak yang bertolak dari hikayat Negeri

Persia. Tokoh-tokoh dari seni dramatari ini antara lain Rengganis, Umar Moyo,

Lamtanus, dan Suwongso.

Pusat cerita terletak pada tokoh Dewi Rengganis (seorang ratu, istri

Suwongso, putra Jayengrono dari kerajaan Guparman) sehingga seni drama ini

disebut praburoro yang berarti “ratu perempuan”. Diceritakan bahwa Dewi

Rengganis adalah seorang perempuan yang tidak dapat digauli oleh laki-laki,

termasuk suaminya. Rahasia ini diketahui oleh Umar Moyo sehingga Dewi

Rengganis merasa sangat malu. Oleh karena itu, ia kemudian melarikan diri ke

wilayah Nusantara. Di tanah Jawa ia mendirikan kerajaan dan sekaligus menjadi ratu.

Secara umum praburoro mengisahkan proses masuknya agama Islam ke tanah

Jawa. Sebelum Islam masuk, di tanah Jawa sudah memiliki budaya Hindu. Salah satu

seni budaya Hindu itu adalah wayang yang alur cerianya bersumber pada epos

Ramayana dan Mahabarata, demikian pula tokoh-tokohnya.

Dalam seni drama praburoro terdapat kurang lebih 21 cerita, yaitu Imam

Sejati, Umar Seketi, Menak Sopo Nyono, Mali Bari, Bedhahing Bangit, Praburoro,

Putri Cino, Rengganis, Dandang Wincono, Umar Moyo Kembar, Umar Mantu,

Subroto Kromo, Maktel Kembar, Subroto Rante, Cinde Kembang, Prabu Bantarangi,

Joko Lelono, Suwongo Gugat, Angin Suseno, Samirono Sekso, dan Kusumo Maling.

Penutup

Masyarakat Using bukan hanya ulet dan mahir dalam bercocok tanam

melainkan juga piawai dalam berkesenian. Eksistensinya bukan hanya membuat

Kabupaten Banyuwangi menjadi gudang pangan, melainkan juga gudang produkproduk

kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan Provinsi Jawa Timur. Produkproduk

kebudayaan Using memiliki peranan strategis, baik yang bermuatan kultural

maupun ekonomi. Jika dikelola, dibina, dan dimanfaatkan dengan baik, produkproduk

kebudayaan Using dapat memberi kontribusi yang berarti bagi baik

pembangunan daerah maupun pembangunan nasional.

Orang Using dikenal sebagai sosok yang adaptif, egaliter, terbuka, dan

mencintai kesenian. Produk-produk kesenian Using bukan hanya menghibur tetapi

juga banyak mengandung nilai perjuangan dan perlawanan terhadap kekuatan asing

yang merugikan. Banyak sekali pesan-pesan mulia yang terkandung dalam syairsyair

baik yang dilantunkan dalam kendang kempul maupun hadrah kuntulan Using

dan dalam seni tari tradisional Using, seperti Gandrung dan Seblang. Jelasnya,

produk budaya Using memiliki dua warna, yaitu produk budaya yang bercitra agraris

dan produk yang bercitra patriotik.

Orang Using, meskipun menjadi pemeluk agama Islam, telah memelihara

tradisinya dengan baik dan tidak mempertentangkan nilai agama dengan tradisi.

Dalam masyarakat Using, agama dan tradisi saling mengisi: agama seringkali

sebagai kekuatan yang lebih dominan mewarnai tradisi. Akibatnya, tidak sedikit

unsur-unsur agama maupun kepentingan agama mewarnai produk kesenian Using.

Produk-produk kesenian Using yang bercitra agraris dapat dimanfaatkan sebagai

perekat dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat, sedangkan yang bercitra

patriotik dapat dimanfaatkan untuk membangun nasionalisme.

“KEMBANG GALENGAN”Dokumen
Iklan

Tentang bamboszone

Blog Pendidikan, Pelatihan dan Bimbingan Belajar
Pos ini dipublikasikan di BANYUWANGI, BERANDA, KEMBANG GALENGAN, WIKIPEDIA. Tandai permalink.

Satu Balasan ke SEKILAS TENTANG MASYARAKAT OSING

  1. Ping balik: SEKILAS TENTANG MASYARAKAT OSING « Blog History Education

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s