MENCEGAH PENYELEWENGAN DANA PROGRAM

Di saat krisis finansial yang berdampak pada semakin banyaknya pengangguran terdidik, maka program PNF yang di telorkan oleh Ditjen PNFI yang berorientasi pada pendidikan kecakapan hidup (life skills) kiranya perlu terus dikembangkan dan dilanjutkan sebagai program alternatif yang benar-benar memberdayakan sasaran didik.

Seperti diketahui, program-program kecakapan hidup itu diantaranya adalah program life skills, magang, kursus dan KBU untuk peserta didik yang telah menyelesaikan program dalam rangka memanfaatkan hasil keterampilan yang telah didapat dan dikuasai.

Semua ini dilakukan oleh Ditjen PNFI beserta UPT dibawahnya sebagai usaha sadar untuk menyiapkan, meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia dengan membekali keterampilan fungsional, agar mampu bersaing di dunia usaha/dunia industri.

Kemudian, sasaran didiknya adalah semua warga masyarakat usia produktif yang masih menganggur (kerja serabutan), dan masuk dalam kategori miskin. Namun tidak menutup juga bagi mereka yang membutuhkan peningkatan keterampilan untuk kepentingan pengembangan karir. Hal ini sesuai dengan misi dari Ditjen PNFI, yaitu perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa yang bermutu, berkecakapan hidup, berkeadilan, berkesetaraan gender, berwawasan pendidikan untuk pengembangan berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Sayangnya, program pendidikan kecakapan hidup (life skills) ini belum banyak yang ditangani secara optimal dan berkesinambungan, sehingga hasilnya belum signifikan, masih banyak pengelola PNF yang menjadi mitra Ditjen PNFI yang ketika alokasi waktu program habis, dananya pun habis dan laporanpun selesai dibuat dan dikirimkan, maka tamat pula program tersebut dan dampaknya peserta didik pun kembali nganggur.

Mengapa ini terjadi ?. Kemungkinan besar karena sistem rekruitmen lembaga mitra penerima dana yang salah, kurang selektif, masih seringnya terjadi praktek percaloan (istilahnya konsultan proposal), proses visitasi ke lapangan yang kurang objektif karena adanya rekomendasi dari “ the strong man ” serta lemahnya monitoring dan koordinasi (dalam hal ini lebih disebabkan karena minimnya alokasi dana pendampingan).

Kedepan, dalam menentukan lembaga mitra yang akan diberi dana block grand harus benar-benar tepat sasaran sebagai lembaga yang memiliki program nyata, bukan lembaga jadi-jadian. Kemudian, proses minitoring dan pembinaanya pun harus intensif dan jelas disepakati di depan sebelum AKS, antara penerima dana dan pemberi dana.

Jika ini bisa dilakukan, maka upaya menciptakan produk unggulan dan program yang terasakan oleh peserta didik bukanlah hal yang mustahil. Sehingga nantinya, program tersebut bisa di duplikasi ke daerah lain yang memiliki potensi yang sama (ada kesamaan). Dengan demikian dana block grand yang dari tahun ke tahun jumlahnya semakin besar itu bisa benar-benar terasakan manfaatnya oleh mereka yang menjadi sasaran program PNFI, bukan memakmurkan pengelolanya, apalagi pekerja PNF nya sendiri. Kalau kebiasaan jelek itu selalu terulang disetiap tahunnya.  Wah …itu namanya T E R L A L U. Naudzubillahi mindzalik. [eb]

(edi basuki)

Sumber: edi basuki (Karyawan bppnfi reg-4 surabaya)
Iklan

Tentang bamboszone

Blog Pendidikan, Pelatihan dan Bimbingan Belajar
Pos ini dipublikasikan di ARTIKEL dan MAKALAH, BERANDA. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s